Bandarlampung, suara kita – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memperkuat ekosistem transportasi umum dan kendaraan ramah lingkungan di perkotaan melalui kehadiran taksi listrik.
“Ke depan kami ingin mengurangi tingkat polusi sekaligus menjaga lingkungan agar tetap baik. Oleh karena itu, taksi listrik atau taksi hijau kami dorong hadir di Provinsi Lampung,” ujar Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal berdasarkan keterangannya di Bandarlampung, Selasa.
Ia mengatakan kehadiran taksi berbasis kendaraan listrik juga merupakan kebijakan yang diarahkan untuk menjawab kebutuhan pelayanan transportasi sekaligus menekan polusi udara di wilayah perkotaan.
“Pemerintah Provinsi Lampung tentunya menargetkan adanya transformasi bertahap menuju penggunaan energi hijau pada sektor transportasi umum,” katanya.
Gubernur memastikan upaya itu dilakukan seiring dengan mempersiapkan pula ekosistem pendukung, khususnya Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
“Sebelum mobil listriknya banyak, tentu ekosistem SPKLU harus disiapkan terlebih dahulu. Untuk tahap awal, pengembangan SPKLU difokuskan di Kota Bandarlampung dan wilayah sekitarnya,” ucap dia.
Saat ini, jumlah SPKLU di Provinsi Lampung mencapai sekitar 44 unit yang tersebar di berbagai daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah menargetkan adanya penambahan hingga 101 SPKLU selama 2028-2029 melalui kolaborasi bersama PLN dan pihak swasta.
“Tenaga pengemudi taksi listrik ini wajib berasal dari warga lokal. Dan harus ada keterlibatan pengemudi perempuan dengan persentase minimal 30 persen dari total tenaga kerja. Kehadiran taksi listrik ini bukan untuk dijadikan kendaraan dinas pemerintah. Namun, Pemerintah Provinsi Lampung memastikan keterlibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dalam skema kerja sama, termasuk kepemilikan saham, agar manfaat ekonomi juga dirasakan daerah,” tambah dia.
Direktur Green SM Indonesia Denny Tija menambahkan Kota Bandarlampung diproyeksikan menjadi kota keempat yang akan menjadi tempat peluncuran layanan taksi listrik Green SM di Indonesia, sekaligus menjadi kota pertama di Pulau Sumatera.
“Target kami ini diluncurkan di bulan Ramadhan. Untuk tahap awal disiapkan sekitar 400 unit kendaraan dan dimulai di Bandarlampung,” katanya.
Denny Tija melanjutkan, untuk tarif taksi listrik, akan ditetapkan harganya sesuai dengan kondisi ekonomi daerah dan persaingan usaha di masing-masing kota.
“Saat ini, kami masih dalam tahap riset dan pengurusan legalitas operasional di Lampung,” tambahnya.
Diketahui rencana fase pengembangan kegiatan operasional Green SM Indonesia di Lampung yakni fase pertama akan dilakukan peluncuran taksi dan pengenalan dengan kegiatan operasional berfokus di Bandarlampung.
Jumlah armada yang direncanakan disiapkan sebanyak 400 unit, dengan kesiapan 500 pengemudi yang sebagian besar merupakan warga Lampung. Selain itu, juga disiapkan dua stasiun pengisian kendaraan listrik.
Kemudian, pada fase kedua akan ada peningkatan jangkauan layanan di Provinsi Lampung, yakni dengan kegiatan operasional bertambah di Kota Metro, selain di Bandarlampung.
Dalam fase ini, jumlah total kendaraan dipersiapkan hingga mencapai 600 unit, dengan kesiapan 750 pengemudi asal Lampung, serta penambahan lima tempat stasiun pengisian kendaraan listrik.
Fase ketiga, untuk mendukung perkembangan ekonomi hijau di Lampung, terdapat tambahan operasional 700 unit kendaraan, serta kesiapan 875 pengemudi asal Lampung.
Terakhir, pada fase keempat akan ada tambahan operasional armada menjadi 1.000 unit, dengan kesiapan jumlah pengemudi hingga mencapai 1.200 orang.




















