LAMPUNG TENGAH, Suara Kita — Kepedulian sosial tidak selalu dimulai dari langkah besar. Terkadang, kepedulian justru menemukan maknanya ketika kebutuhan sederhana masyarakat mendapat perhatian dan diwujudkan menjadi tindakan nyata.
Hal itu tercermin dalam langkah dr. Uswatun Hasanah, pemilik Rumah Sakit Umum Mitra Mulia Husada (RSU-MMH), yang menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp25 juta untuk pembangunan musala di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cinta, Bandar Jaya Timur, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (9/10/2026).
Bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap kebutuhan peserta didik yang selama ini belum memiliki tempat ibadah khusus yang memadai di lingkungan belajar mereka. Bagi dr. Uswatun, kebutuhan seperti ini layak mendapat perhatian karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan proses belajar di kelas, tetapi juga menyangkut kenyamanan, pembentukan karakter, dan pemenuhan kebutuhan spiritual peserta didik.
Sebagai pemilik rumah sakit, dr. Uswatun menjalankan usaha di bidang pelayanan kesehatan. Namun, melalui program CSR RSU-MMH, ruang kepedulian itu diperluas hingga menyentuh kebutuhan sosial masyarakat, termasuk pendidikan dan fasilitas ibadah.
Bantuan untuk PKBM Cinta berawal dari usulan pihak lembaga pendidikan yang membutuhkan musala. Usulan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan melihat langsung kondisi di lokasi sebelum bantuan direalisasikan.
“Pihak PKBM Cinta mengusulkan bantuan untuk pembangunan musala. Kami kemudian melihat kebutuhan dan kondisi di lokasi, sehingga bantuan CSR dari rumah sakit dapat direalisasikan untuk membantu pembangunan tempat ibadah ini,” ujar dr. Uswatun Hasanah.
Langkah tersebut menunjukkan bagaimana program tanggung jawab sosial perusahaan dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang nyata di tengah masyarakat. Bantuan tidak berhenti pada penyaluran dana, tetapi berangkat dari persoalan yang disampaikan penerima manfaat dan kondisi yang ditemukan di lapangan.
Di PKBM Cinta, kebutuhan akan musala memiliki arti penting bagi peserta didik dan pengelola. Selama ini, ketika waktu salat tiba, mereka belum memiliki fasilitas ibadah khusus yang memadai. Kondisi itu mendorong pengelola lembaga untuk mencari dukungan agar pembangunan musala dapat diwujudkan.
Pemilik sekaligus Kepala Sekolah PKBM Cinta, Hj. Yunani, mengatakan bahwa rencana pembangunan musala berangkat dari kebutuhan peserta didik yang memerlukan tempat khusus untuk beribadah.
“Di sini ada anak-anak yang ketika waktunya salat belum memiliki tempat khusus untuk beribadah. Karena itu, saya berinisiatif menyampaikan rencana pembangunan musala kepada Bu Uswatun Hasanah,” kata Yunani.
Ia mengungkapkan, setelah menerima usulan tersebut, dr. Uswatun bersedia meninjau langsung lokasi dan memberikan bantuan melalui program CSR RSU-MMH. Dukungan senilai Rp25 juta itu menjadi dorongan bagi PKBM Cinta untuk mewujudkan fasilitas ibadah yang selama ini dibutuhkan.
“Alhamdulillah, Bu Dokter membantu dengan nominal Rp25 juta. Kami sangat bersyukur dan berharap bantuan ini menjadi berkah bagi beliau, keluarganya, serta rumah sakitnya agar semakin bermanfaat bagi masyarakat luas,” ungkapnya.
Bagi PKBM Cinta, bantuan tersebut bukan sekadar tambahan dana pembangunan. Kehadiran musala diharapkan menjadi bagian dari lingkungan pendidikan yang lebih lengkap, sehingga peserta didik dapat menjalankan kegiatan belajar sekaligus memenuhi kebutuhan ibadah dengan lebih nyaman.
Sementara bagi RSU-MMH, bantuan itu menjadi salah satu wujud pelaksanaan tanggung jawab sosial di luar pelayanan utama rumah sakit. Dr. Uswatun menjelaskan bahwa program CSR yang dijalankan tidak hanya diarahkan pada bidang kesehatan, tetapi juga mencakup dukungan terhadap pendidikan, fasilitas umum, tempat ibadah, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pendekatan tersebut membuka ruang bagi dunia usaha untuk berkontribusi terhadap kebutuhan masyarakat yang beragam. Sebab, persoalan sosial tidak selalu dapat dijawab melalui satu sektor saja. Dukungan terhadap fasilitas pendidikan dan tempat ibadah, misalnya, dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan masyarakat yang lebih baik.
Di luar aktivitasnya sebagai pemilik RSU-MMH, dr. Uswatun juga mengemban amanah sebagai Ketua DPC PKB Lampung Tengah. Namun, dalam kegiatan ini, kontribusinya terlihat melalui dukungan sosial yang disalurkan untuk menjawab kebutuhan lembaga pendidikan masyarakat.
Bantuan kepada PKBM Cinta memperlihatkan satu sisi pengabdian yang bertumpu pada tindakan konkret: mendengar kebutuhan, melihat kondisi, kemudian memberikan dukungan sesuai persoalan yang dihadapi.
Pada akhirnya, nilai sebuah kepedulian tidak hanya terletak pada besarnya bantuan yang diberikan, tetapi juga pada manfaat yang diharapkan tumbuh setelah bantuan itu disalurkan. Di PKBM Cinta, Rp25 juta tersebut menjadi dukungan awal bagi pembangunan musala yang dibutuhkan peserta didik.
Melalui program CSR RSU-MMH, dr. Uswatun Hasanah berharap kontribusi sosial dapat terus memberi manfaat bagi masyarakat. Sebuah langkah yang menempatkan kepedulian bukan hanya sebagai ungkapan, melainkan sebagai tindakan nyata yang menjangkau kehidupan masyarakat hingga ke ruang pendidikan. (red)




















