Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Kepsek Riana Dorong Budaya Sekolah Positif untuk Perkuat Kinerja Guru

18
×

Kepsek Riana Dorong Budaya Sekolah Positif untuk Perkuat Kinerja Guru

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

LAMPUNG TENGAH, SUARA KITA — Membangun sekolah yang berkualitas tidak hanya bergantung pada sarana dan prasarana maupun pencapaian akademik peserta didik. Bagi Wahyu Febriana, Kepala SD Negeri 2 Sulusuban, Kecamatan Seputih Agung, Lampung Tengah, kepemimpinan dan budaya sekolah yang positif juga menjadi bagian penting dalam mendorong kinerja guru.

Pandangan tersebut menjadi bagian dari kajian yang dilakukan Riana bersama Syafrimen, Tulus Suryanto, dan Koderi dari Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung mengenai pengaruh kepemimpinan pendidikan dan kepemimpinan Islami terhadap kinerja guru, dengan budaya organisasi sebagai variabel yang memperkuat hubungan tersebut.

Penelitian berjudul “The Influence of Educational Leadership and Islamic Leadership on Teacher Performance with Organizational Culture as A Moderating Variable at SD Negeri 2 Sulusuban” itu menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 32 guru sebagai populasi penelitian.

Menurut Riana, hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Hal serupa juga terlihat pada kepemimpinan Islami.

“Kepemimpinan pendidikan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru. Begitu juga kepemimpinan Islami menunjukkan pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja guru, ujar Riana.

Namun, menurutnya, ada temuan lain yang tidak kalah penting, yakni peran budaya organisasi dalam memperkuat hubungan antara kepemimpinan pendidikan dan kinerja guru.

“Kepemimpinan tidak bisa berjalan sendiri. Budaya organisasi yang baik dapat memperkuat hubungan antara kepemimpinan dengan kinerja guru. Karena itu, membangun budaya sekolah yang positif harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Riana menjelaskan, budaya sekolah terbentuk dari berbagai hal yang berlangsung setiap hari, mulai dari komunikasi, kerja sama, kedisiplinan, pembagian tanggung jawab, hingga keteladanan yang diberikan para pemimpin dan pendidik.

Karena itu, sekolah menurutnya bukan hanya tempat guru melaksanakan kegiatan pembelajaran, tetapi juga sebuah organisasi yang membutuhkan lingkungan kerja sehat agar setiap unsur di dalamnya dapat berkembang.

“Kepala sekolah memang mempunyai posisi strategis, tetapi budaya sekolah bukan dibangun oleh kepala sekolah seorang. Guru dan seluruh warga sekolah memiliki peran yang sama penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat dan produktif,” jelasnya.

Kepala Sekolah Harus Terus Belajar

Bagi Riana, penelitian tersebut juga menjadi pengalaman penting dalam menjalankan perannya sebagai kepala sekolah. Menurutnya, kepala sekolah tidak cukup hanya memahami aspek administratif. Seorang pemimpin pendidikan juga harus mampu melakukan evaluasi, membaca persoalan di lingkungan sekolah, dan terus mengembangkan kapasitas dirinya.

“Menjadi kepala sekolah bukan berarti berhenti belajar. Justru kepala sekolah harus terus belajar dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan agar pengelolaan sekolah bisa semakin baik,” ujarnya.

Ia menilai pengalaman praktis di sekolah dapat menjadi bahan untuk melihat berbagai persoalan pendidikan secara lebih objektif ketika dipadukan dengan pendekatan akademik.

Dalam penelitian tersebut, Riana menjelaskan, secara statistik angka tersebut menunjukkan model penelitian mampu menjelaskan 73,2 persen variasi kinerja guru berdasarkan variabel-variabel yang digunakan.

Namun, ia menegaskan angka tersebut tidak dapat diartikan bahwa 73,2 persen kinerja guru disebabkan oleh kepala sekolah.

“R Square menunjukkan kemampuan model dalam menjelaskan variasi kinerja guru berdasarkan variabel yang diteliti. Jadi tidak tepat jika angka 73,2 persen diterjemahkan sebagai persentase pengaruh kepala sekolah terhadap kinerja guru,” terangnya.

Kepemimpinan Harus Dibangun dengan Keteladanan

Selain kepemimpinan pendidikan, penelitian tersebut juga melihat aspek kepemimpinan Islami. Bagi Riana, kepemimpinan dalam pendidikan tidak hanya berbicara mengenai kemampuan mencapai target sekolah, tetapi juga menyangkut tanggung jawab, nilai, integritas dan keteladanan.

“Pemimpin pendidikan harus mampu memberikan arah sekaligus menjadi teladan. Nilai tanggung jawab, kedisiplinan dan keteladanan harus hadir dalam keseharian, bukan hanya menjadi konsep,” katanya.

Ia berharap kajian tersebut dapat menjadi bahan refleksi bagi pengelolaan pendidikan di SDN 2 Sulusuban dan sekaligus memperkuat kesadaran bahwa peningkatan mutu sekolah merupakan proses yang harus dilakukan secara berkelanjutan.

Menurut Riana, guru membutuhkan lingkungan kerja yang mendukung, kepala sekolah membutuhkan kemampuan membangun kolaborasi, dan sekolah membutuhkan budaya organisasi yang mendorong seluruh warga sekolah untuk terus berkembang.

“Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang membuat peserta didiknya terus belajar. Guru dan kepala sekolah juga harus menjadi pembelajar. Kalau semua mau belajar dan memperbaiki diri, maka sekolah akan terus berkembang,” pungkasnya.

Dari SDN 2 Sulusuban, Wahyu Febriana menunjukkan bahwa kepemimpinan sekolah tidak berhenti pada urusan administrasi. Kepemimpinan juga dapat menjadi ruang untuk belajar, melakukan evaluasi, membangun budaya organisasi, dan mencari cara agar kinerja guru terus bergerak ke arah yang lebih baik.

Example 728x250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 325x300
Example 325x300