Ada yang sedang tidak baik-baik saja di tubuh Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Bukan sekadar birokrasi yang lamban, tetapi memudarnya kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat.
Bagaimana mungkin pemerintah yang setiap tahun mengelola APBD bernilai triliunan rupiah belum mampu menghadirkan pembangunan infrastruktur, sementara warga justru harus patungan membangun jalan? Pertanyaan ini bukan lagi sekadar kritik, melainkan kegelisahan yang semakin nyata.
Dalam beberapa hari terakhir, saya menelusuri sejumlah ruas jalan yang masuk rencana pembangunan daerah. Hingga pertengahan Juli 2026, aktivitas fisik proyek APBD nyaris belum terlihat. Alat berat belum bekerja, pekerja belum turun ke lapangan, sementara jalan-jalan rusak tetap menjadi urat nadi aktivitas petani, pedagang, pelajar, dan masyarakat.
Ironisnya, ketika pemerintah belum hadir, rakyat justru bergerak lebih dahulu. Warga Kampung Sendangbaru, Kecamatan Sendangagung, bergotong royong memperbaiki jalan secara swadaya. Di Kampung Mujirahayu, Kecamatan Seputih Agung, masyarakat mengumpulkan sekitar Rp100 juta demi memperbaiki akses utama kampung mereka. Di berbagai titik lain, warga memilih bertindak sendiri daripada terus menunggu.
Gotong royong memang nilai luhur. Namun ketika masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membangun jalan yang menjadi tanggung jawab pemerintah, gotong royong berubah menjadi cermin lemahnya kehadiran negara.
Informasi yang saya peroleh menyebutkan proses pengadaan telah berjalan. Dokumen disiapkan, administrasi diproses, dan tahapan terus berlangsung. Namun bagi masyarakat, dokumen tidak menutup lubang jalan. Berkas yang berpindah meja tidak membuat jalan menjadi mulus. Yang dibutuhkan bukan penjelasan prosedur, melainkan pekerjaan nyata di lapangan.
Setiap hari keterlambatan membawa biaya yang harus ditanggung masyarakat. Hasil panen terlambat dipasarkan, ongkos distribusi meningkat, kendaraan lebih cepat rusak, dan risiko kecelakaan semakin besar. Di sisi lain, kontraktor belum bekerja, pemasok material belum menerima pesanan, tenaga kerja lokal kehilangan kesempatan memperoleh penghasilan, dan perputaran ekonomi daerah ikut melambat.
Lalu, untuk apa APBD disahkan setiap tahun jika rakyat masih harus membangun jalannya sendiri?
Masyarakat tidak mengukur keberhasilan pemerintah dari banyaknya rapat, dokumen, atau konferensi pers. Ukurannya sederhana: apakah pembangunan sudah dimulai atau belum.
Jika jawabannya masih “belum”, maka kritik ini layak disampaikan. Kritik ini lahir dari jalan-jalan yang rusak, dari keluhan petani dan pelaku usaha, dari biaya hidup yang terus bertambah akibat infrastruktur yang tak kunjung diperbaiki, serta dari warga yang akhirnya patungan demi mendapatkan akses jalan yang layak.
APBD bukan sekadar dokumen anggaran. APBD adalah janji pemerintah kepada masyarakat bahwa uang publik akan kembali dalam bentuk pembangunan dan pelayanan. Ketika realisasinya terus tertunda, yang hilang bukan hanya waktu, tetapi juga kepercayaan publik.
Karena pada akhirnya, jabatan publik tidak diukur dari seberapa sering seorang pejabat berbicara di depan kamera atau menghadiri rapat. Jabatan publik diukur dari seberapa nyata kehadiran pemerintah dirasakan masyarakat.
Keterlambatan realisasi APBD bukan sekadar persoalan administrasi. Setiap proyek yang tertunda berarti kesempatan kerja yang hilang, roda ekonomi yang melambat, biaya distribusi yang meningkat, dan beban yang semakin berat bagi masyarakat. Jalan rusak tidak menunggu proses birokrasi, begitu pula kebutuhan warga.
APBD bukan sekadar dokumen anggaran yang disahkan setiap tahun. APBD adalah janji pemerintah bahwa uang rakyat akan kembali dalam bentuk pembangunan, pelayanan, dan kesejahteraan. Ketika janji itu tak kunjung terlihat di lapangan, yang terkikis bukan hanya kualitas infrastruktur, tetapi juga kepercayaan publik.
Dan ketika rakyat sudah patungan membangun jalan, sementara proyek APBD belum juga menjadi pekerjaan nyata di lapangan, publik berhak bertanya dengan suara yang semakin lantang:
Sebenarnya, untuk apa APBD Lampung Tengah jika rakyat masih harus membangun jalannya sendiri?




















