Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Example 728x250
Berita

Kadisdikbud Lamteng: Kita Merdeka dari Penjajah, Belum dari Kelemahan Sendiri

42
×

Kadisdikbud Lamteng: Kita Merdeka dari Penjajah, Belum dari Kelemahan Sendiri

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Lampung Tengah, Suara Kita – Pertanyaan tentang kemerdekaan Indonesia ternyata tidak selalu berakhir dengan jawaban sederhana.

Setelah 81 tahun Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa merdeka, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Tengah, Dr. Nur Rohman, S.E., M.Sos.I., justru mengajak untuk kembali merenungkan satu pertanyaan mendasar: apakah kita benar-benar sudah merdeka?

“Pertanyaan itu mendadak hulu-ledak di kepala saya malam ini. Pertanyaan pendek. Tapi, batin saya bergolak membacanya,” ungkap Nur Rohman dalam refleksi kritisnya.

Secara hukum, jawabannya tentu sudah jelas.

Indonesia telah merdeka sejak 81 tahun lalu, sejak dwi-tunggal Sukarno-Hatta membacakan Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur.

Secara de jure dan de facto, Indonesia memiliki negara sendiri, bendera sendiri, lagu kebangsaan sendiri, hingga paspor sendiri.

Namun, bagi Nur Rohman, pertanyaan tentang kemerdekaan tidak berhenti di sana.

“Tapi, apakah esensi merdeka itu sekadar tidak ada lagi serdadu asing yang berpatroli di jalanan kota kita?”

Pertanyaan itu kemudian membawanya pada berbagai realitas yang masih dihadapi bangsa ini.

Ia teringat pada ribuan anak muda Indonesia yang memiliki pendidikan tinggi dan kemampuan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Namun, di tengah kemajuan pendidikan dan teknologi, kecemasan terhadap masa depan tetap menjadi persoalan.

“Mereka pintar-pintar. Lulusan universitas top. Tapi setiap hari kepala mereka dipenuhi kecemasan: besok kerja apa? Apakah algoritma kecerdasan buatan akan menggusur masa depan mereka?” katanya.

Di titik itu, ia kembali mempertanyakan makna kemerdekaan.

“Apakah mereka merdeka dari rasa takut akan hari esok?”

Refleksi tersebut juga diarahkan pada kehidupan masyarakat di pedesaan, terutama para petani.

Indonesia, kata dia, boleh berbangga dengan angka pertumbuhan ekonomi yang terlihat baik di atas kertas. Namun, realitas yang dihadapi petani tidak selalu sejalan dengan angka-angka tersebut.

Saat panen raya, harga gabah dapat anjlok. Sebaliknya, ketika memasuki musim tanam, persoalan pupuk kembali menjadi tantangan karena sulit diperoleh atau harganya mahal.

“Mereka seperti terjajah di tanah mereka sendiri. Terjajah oleh sistem distribusi yang tidak pernah berpihak pada keringat mereka,” ujarnya.

Lantas, apakah kondisi tersebut sudah dapat disebut sebagai kemerdekaan?

Meski menyampaikan sejumlah kritik, Nur Rohman menegaskan dirinya tetap melihat perjalanan bangsa ini dengan optimisme.

Ia mengakui pembangunan Indonesia mengalami kemajuan pesat. Jalan tol terus tersambung, kereta cepat telah melesat, dan bandara-bandara megah berdiri di berbagai wilayah.

“Secara fisik, kita tumbuh menjadi raksasa,” ujarnya.

Namun, kemajuan fisik tersebut, menurutnya, bukan satu-satunya ukuran untuk menentukan apakah sebuah bangsa telah benar-benar merdeka.

“Kemerdekaan sejati bukan hanya soal beton dan baja.”

Bagi Nur Rohman, kemerdekaan yang hakiki adalah kemerdekaan berpikir, kemerdekaan dari ketergantungan, kemerdekaan dari kebodohan, dan yang paling penting, kemerdekaan dari rasa ketidakadilan.

Karena itu, ia menilai perjuangan bangsa belum sepenuhnya selesai.

“Selama kita masih gemar mengimpor barang yang bisa kita produksi sendiri, kita belum sepenuhnya merdeka. Selama hukum masih bisa dibeli oleh yang punya kuasa dan uang, kemerdekaan itu baru milik segelintir orang,” tegasnya.

Lalu, apa jawaban atas pertanyaan: apakah kita sudah merdeka?

Nur Rohman menjawabnya dengan sebuah kalimat yang menjadi inti dari seluruh refleksinya.

“Saya ingin menjawabnya dengan gaya panggung: Kita sudah merdeka dari penjajah berbaju seragam asing. Tapi, kita masih berjuang merdeka dari kelemahan bangsa kita sendiri.”

Menurutnya, perjuangan pada gelombang kedua justru tidak kalah berat.

Sebab, musuh yang dihadapi bangsa hari ini tidak selalu terlihat.

“Musuhnya adalah kemalasan kita, korupsi kita, dan ketidakpedulian kita,” ujarnya.

Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa tidak berhenti ketika penjajahan asing berhasil diakhiri.

Masih ada pekerjaan besar untuk membebaskan bangsa dari berbagai kelemahan yang tumbuh dari dalam dirinya sendiri.

“Tugas kita belum selesai. Bahkan, mungkin baru dimulai,” pungkasnya.

Di akhir catatannya, Nur Rohman menyebut refleksi tersebut sebagai “diskusi kritis mantan aktivis.”

Example 728x250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 325x300
Example 325x300