METRO, Suara Kita – Rencana aksi aliansi petani di depan DPRD Kota Metro pada 22 April 2026 mendadak menjadi sorotan. Bukan semata soal tuntutan petani, tetapi karena muncul dugaan adanya agenda politik di balik gerakan tersebut.
Kecurigaan publik mencuat setelah flyer ajakan aksi beredar luas di media sosial. Dalam selebaran itu, tertulis seruan terbuka dengan tagline “Bangun Persatuan Gerakan Rakyat, Petani Metro Menggugat”—lengkap dengan tiga tuntutan utama: solusi permanen dari pemerintah, pertanggungjawaban atas dampak banjir, serta jaminan keberlangsungan hidup petani.
Namun, perhatian publik tidak berhenti pada isi tuntutan. Sejumlah sumber menyebut, gerakan ini diduga berkaitan dengan seorang oknum kader PDI Perjuangan Kota Metro berinisial T, yang sebelumnya aktif menyuarakan isu serupa di media siber.
Nama T bukan tanpa jejak. Ia diketahui pernah terlibat dalam narasi kritik terhadap kondisi petani, termasuk dalam pemberitaan berjudul “Petani Rejomulyo Gagal Panen, PDIP Metro Surati Walikota hingga Mentan”. Keterkaitan ini memunculkan pertanyaan: apakah aksi yang akan digelar benar-benar murni aspirasi petani, atau justru ditunggangi kepentingan tertentu?
Di sisi lain, Pemerintah Kota Metro justru tengah menunjukkan langkah aktif dalam mendukung sektor pertanian. Salah satunya melalui penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa 19 unit traktor roda empat kepada kelompok tani di seluruh wilayah kota.
Bantuan yang merupakan program Kementerian Pertanian RI tahun 2026 tersebut diserahkan langsung oleh Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, di Kelurahan Rejomulyo, Metro Selatan, pada 2 April 2026. Program ini ditujukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi kerja petani.
Tak hanya itu, di tengah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino, Pemerintah Kota Metro juga bergerak cepat. Wali Kota Metro bahkan menghadiri langsung Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Mitigasi Kekeringan Lahan Pertanian di Kementerian Pertanian RI pada 20 April 2026.
Dalam forum tersebut, Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa ancaman El Nino tahun ini berpotensi lebih kering dari kondisi normal, sehingga diperlukan langkah mitigasi yang cepat dan terukur.
“Kita menghadapi ancaman serius. El Nino tahun ini diprediksi lebih kering dari rata-rata. Karena itu, langkah mitigasi harus dilakukan secara luar biasa,” tegasnya.
Kehadiran kepala daerah dalam forum itu bahkan menjadi indikator komitmen pemerintah daerah dalam memperoleh dukungan pusat. Wali Kota Metro memanfaatkan momentum tersebut dengan mengajukan tambahan bantuan alsintan guna memperkuat produktivitas petani.
Hasilnya, Kota Metro direncanakan akan menerima bantuan tambahan berupa 28 unit traktor roda empat, 20 unit combine harvester, serta puluhan unit pompa air untuk menghadapi musim kemarau.
Melihat rangkaian langkah tersebut, publik kini dihadapkan pada dua realitas yang kontras: di satu sisi, pemerintah mengklaim terus berupaya memperkuat sektor pertanian; di sisi lain, muncul seruan aksi yang menggugat kinerja tersebut.
Pertanyaan pun mengemuka:
apakah aksi ini benar-benar lahir dari kegelisahan petani di lapangan, atau ada kepentingan lain yang ikut bermain di baliknya?
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak penggagas aksi terkait dugaan tersebut. Sementara itu, masyarakat berharap aspirasi petani tetap tersalurkan secara murni, tanpa ditarik ke dalam kepentingan politik yang justru berpotensi memperkeruh keadaan.




















